كُنتُمۡ
خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ
وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنڪَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ
أَهۡلُ ٱلۡڪِتَـٰبِ لَكَانَ خَيۡرً۬ا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
وَأَڪۡثَرُهُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ (١١٠
"Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli
kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” ( QS Ali Imran : 110 )
Sebagaimana
telah diketahui, bahwa tujuan hidup manusia
adalah Allah subhanahu wa ta’ala, yang dicapai dengan berusaha selalu
mencari keridlaan-Nya melalui perjuangan melaksanakan tugas hidup selaku
hamba-Nya. Di dalam melaksanakan tugas hidupnya
dengan baik -agar nantinya mendapat ridla Allah-
manusia harus memilih Islam sebagai jalan hidup (way of life),
yang akan mengantarkannya ke dalam kedamaian, keselamatan,
dan kebahagiaan dunia maupun
akhirat. Pemilihan alternatif selain Islam
sebagai jalan hidup akan merugikan dirinya,
membawa kesengsaraan, kesesatan, dan kemurkaan Allah. Tidak semua
agama itu benar sebagaimana didakwakan sementara
orang, tetapi hanya Islam-lah
agama yang benar dan dapat diuji akan
kebenarannya. Pemilihan agama selain Islam, hanya akan memberikan
angan-angan kosong karena di akhirat akan mendapat kerugian.
وَٱلۡعَصۡرِ (١) إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِى خُسۡرٍ (٢) إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ (٣
demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran.” (QS
Al Ashr : 1-3 )
Sebagai
konsekuensi logis atas keimanan terhadap Islam, maka seorang yang mengaku
beragama Islam harus memiliki rasa terikat diri (komitmen)
kepada Islam. Komitmen tersebut menurut Endang Saifuddin Anshari,
MA meliputi: mengimani, mengilmui, mengamalkan, menda’wahkan
dan bersabar dalam ber-Islam.
MENGIMANI
ISLAM
Setiap orang yang mengaku beragama Islam atau muslim harus mengimani kesempurnaan
dan kemutlakan kebenaran Islam, sebagai suatu
ajaran yang universal dan abadi (eternal),
yang mengatur hubungan antar manusia sebagai makhluq dengan
Allah sebagai Khaliq (Pencipta), antara manusia dengan
manusia lainnya dan antara manusia dengan alam
sekitarnya. Setiap manusia diberi kebebasan
untuk melakukan pemilihan dalam hidupnya. Allah telah memberi
kebebasan kepada manusia untuk mengambil salah satu
dari dua alternatif, yaitu iman atau
kafir. Namun demikian bagi seorang yang
telah beriman, diharapkan supaya selalu tetap beriman dan
tidak ragu-ragu agar terhindar dari kesesatan.
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ (١٠٢
Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan
beragama Islam.” ( Ali Imran :102)
Komitmen
muslim dalam mengimani Islam seharusnya membawa
kepada kepasrahan diri kepada
Allah, sebagaimana makna Islam itu sendiri. Abul A’la Maududi berpendapat,
bahwa Islam bermakna kepatuhan dan
kerajinan menjalankan kewajiban kepada Allah.
Islam bermakna memasrahkan diri kepada Allah. Islam bermakna
mengorbankan kebebasan dan kemerdekaan diri sendiri
demi Allah. Islam bermakna menyerahkan diri di bawah
kekuasaan kerajaan dan kedaulatan Allah. Seseorang yang mempercayakan segala urusannya
kepada Allah adalah seorang muslim, dan seorang yang mempercayakan
urusan-urusannya kepada dirinya sendiri atau kepada siapapun
selain Allah bukanlah seorang muslim. Mempercayakan
segala urusan kepada Allah berarti menerima bimbingan Allah
yang diberikan melalui Kitab Suci-Nya dan bimbingan yang
diberikan oleh Rasul-Nya. Selanjutnya hanya Al Quraan dan
Sunnah Rasul sajalah yang harus diikuti dalam
setiap masalah kehidupan.
Sekali
lagi yang dapat dinamakan seorang muslim hanyalah orang yang rela
mengesampingkan pemikirannya sendiri, adat
kebiasaan masyarakat dan dunia serta nasehat-nasehat dari orang lain, selain
nasehat dari Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim adalah orang yang
dalam setiap persoalan selalu berkonsultasi dengan Kitab
Allah dan kata-kata Rasul-Nya, untuk mengetahui apa yang harus ia lakukan
dan apa yang tidak boleh ia lakukan. Seorang Muslim ialah orang
yang mau menerima tanpa ragu-ragu sedikitpun petunjuk apa saja yang
didapatnya dari Allah dan Rasul-Nya, dan menolak
apapun yang dilihatnya bertentangan dengan
petunjuk Allah dan Rasul-Nya, karena ia
telah mempercayakan dirinya sepenuhnya
kepada Allah. Dan tindakan mempercayakan
diri sepenuhnya kepada Allah inilah yang menjadikan
seseorang dapat disebut seorang muslim.
Sebaliknya,
seseorang tidaklah dapat dinamakan seorang muslim bila ia tidak
bergantung pada Al Quraan dan Sunnah Rasul, tetapi melaksanakan apa
yang dikatakan oleh pikirannya sendiri, atau mengikuti apa yang diperbuat oleh
nenek moyangnya, atau menyesuaikan diri dengan apa yang
dilakukan oleh masyarakat sekitarnya dan oleh orang-orang di dunia pada
umumnya, tanpa mencari petunjuk dalam Al Quraan dan Sunnah tentang
bagaimana menangani masalah urusan-urusannya, atau bila ia
tahu apa yang diajarkan oleh Al Quraan dan Sunnah tetapi ia
keberatan untuk menurutinya dengan mengatakan: “Ah, ini
tidak sesuai dengan akal pikiran saya, karena itu saya tidak bisa
menerimanya”, atau “Karena ajaran Al Quraan dan Sunnah ini bertentangan
dengan ajaran nenek moyang saya, maka saya tidak akan
mengikutinya”, atau “Karena masyarakat dan
orang-orang di seluruh dunia tidak menyetujui ajaran Al
Quraan dan Sunnah, maka saya juga tidak akan menyetujuinya”. Orang
yang berpandangan seperti ini tidak dapat dinamakan seorang
muslim, dan bila ia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang muslim, ia
hanyalah seorang pendusta.
Demikianlah,
komitmen muslim didalam mengimani Islam seharusnya
memberi bekasan yang paling dalam kepada seorang manusia yang
menganggap dirinya muslim. Pendapat Abul A’la Maududi di atas tentunya
sangat patut kita renungkan. Karena keimanan yang benar
adalah keimanan yang konsekuen di jalan lurus (shiratal
mustaqim).
MENGILMUI
ISLAM
Setiap
muslim harus berusaha memperdalam pengetahuannya tentang ajaran agama
Islam, sesuai dengan kemampuannya, dan dilakukan
sepanjang hidupnya (long life education).
Mengilmui Islam adalah merupakan suatu kewajiban dalam
rangka melaksanakan tugas penghambaan kepada Allah dengan cara yang
benar, sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Orang yang beriman dan
memiliki pengetahuan adalah manusia yang memiliki nilai lebih, karena itu
mereka layak memperoleh derajat di sisi Tuhan-nya.
يَـٰٓأَيُّہَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِى ٱلۡمَجَـٰلِسِ
فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ
فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ
أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٌ۬
(١١
Hai
orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah
dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan. (QS 58:11, Al Mujaadilah)
Al Quraan dan As Sunnah adalah sumber syari’at Islam oleh karena itu keharusan bagi setiap muslim adalah berusaha memahami keduanya, agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Al Quraan adalah wahyu Allah yang diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia. Sudah barang tentu bagi seorang muslim harus ada keterikatan dengan Al Quraan dan berusaha mempelajari bukan mengacuhkannya. Al Quraan telah dimudahkan untuk dipelajari dan mempergunakannya sebagai petunjuk dalam hidup ini.
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan
Al Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang
mengambil pelajaran? (QS
54:17,22,32,40, Al Qamar).
Disamping
Al Quraan, sumber ajaran Islam yang lain adalah Sunnah
Rasul yang dikenal dengan sebutan Al Hadits, yaitu ucapan dan
tindakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mapupun taqrir beliau.
Al Hadits telah dicatat dan dikodifikasikan oleh para ulama dalam kitab-kitab
kumpulan hadits, yang terkenal di antaranya adalah: Shahih Bukhari, Shahih
Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At Tirmidzi, Sunan An Nasa’i, Sunan Ibnu Majah
dan lain sebagainya. Di dalam kumpulan hadits-hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tersebut akan kita dapatkan suri tauladan beliau dalam
mengimplementasikan Al Quraan.
Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS 33:21, Al Ahzab).
Selama
umat Islam berpegang pada Al Quraan dan Al Hadits
mereka tidak akan tersesat. Demikian pula
sebaliknya, meninggalkan keduanya menyebabkan mereka tersesat
dari jalan yang lurus dan terombang-ambing
dalam badai kehidupan. Karena itu, seharusnya umat
Islam berusaha untuk mengilmui Islam dengan mempelajari Al Quraan
dan Al Hadits sesuai dengan kemampuannya. Tidak hanya
sekedar mengikuti fatwa-fatwa para ulama dan
pendapat-pendapat para intelektual tanpa mengetahui dasarnya, apalagi
taqlid buta.
Mengkaji
Al Quraan dan Al Hadits merupakan kewajiban bagi setiap
muslim. Dimulai dari cara membacanya kemudian diikuti dengan
menelaah dan memahami isi kandungannya, bahkan bila
memungkinkan sampai dapat mengajarkannya kepada orang lain. Memang,
tidak setiap muslim harus menjadi ulama yang ahli Al
Quraan dan Al Hadits maupun ilmu-ilmu agama yang
berkaitan dengan keduanya. Namun, yang
perlu ditekankan adalah adanya kesadaraan diri untuk mengilmui Islam dari
sumbernya yang asli.
Sebagai
seorang muslim disamping menuntut ilmu agama sebagai
tugas utama dalam menuntut
ilmu, juga dipersilahkan untuk menuntut ilmu yang
lain apabila ingin mencari keutamaan sesuai dengan
kemampuan dan kecenderungan-kecenderungan yang dimiliki, baik
ilmu-ilmu kealaman, sosial maupun humaniora.
MENGAMALKAN
ISLAM
Setiap
muslim seharusnya memanfaatkan keimanan dan pemahamannya
tentang Islam dalam aktivitas amal shalih
sesuai dengan kemampuannya. Perilaku kesehariannya akan diwarnai
oleh keyakinannya terhadap Islam. Iman bukan saja membekas di dalam
hati tetapi juga terungkap dalam kehidupannya. Pengetahuannya tentang
Islam tidak berhenti sebagai islamologi belaka sebagaimana
para orientalis, namun dinyatakan dalam kehidupan
sehari-hari. Ilmu yang dimiliki menjadi bermanfaat bagi dirinya dan
masyarakat pada umumnya.
Dan katakanlah: “Bekerjalah
kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu
itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)
Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya
kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS 9:105, At Taubah).
Orang yang
mengerjakan amal shalih dalam keadaan
beriman akan mendapat kehidupan yang baik dan pahala yang
lebih baik, sebagaimana dalam firman-Nya:
Barangsiapa yang mengerjakan amal
shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesunggguhnya akan Kami beri balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari
apa yang telah mereka kerjakan. (QS
16:97, An Nahl).
MENDA’WAHKAN
ISLAM
Islam
adalah agama bagi seluruh umat manusia, tidak hanya
untuk ras atau golongan tertentu. Islam adalah agama universal.
Wajar apabila seorang muslim memiliki rasa terikat
diri untuk menda’wahkan Islam dan
menyebarkan agama ini sebagai rahmat bagi semesta alam. Sudah
seharusnya bagi seorang muslim untuk
menda’wahkan Islam, sesuai dengan kemampuannya, kepada
orang yang sudah beragama Islam maupun yang belum memeluk Islam
(non muslim).
Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang
yang berserah diri” (QS 41:33, Al Fushshilat)
Menda’wahkan
Islam adalah merupakan komitmen muslim yang memiliki nilai kemanusiaan
tinggi. Mengajak kepada aqidah tauhid, membimbing ke
jalan yang lurus dan membawa manusia kepada kebahagiaan dunia dan
akhirat. Di dalam melaksanakan misi da’wah, meskipun dapat
dilaksanakan sendiri-sendiri oleh setiap individu muslim adalah
merupakan suatu kebaikan -terlebih dalam dunia modern ini- untuk
melaksanakannya secara kolektif dan terorganisir dengan memanfaatkan
segenap potensi yang dimiliki. Da’wah Islam apabila
dilakukan secara kolektif dan profesional, insya Allah,
akan dapat memberikan hasil lebih efisien,
efektif, dan memuaskan.
Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS 3:104, Ali Imran).
Ayat
tersebut menunjukkan, bahwa seorang mukmin yang memegang teguh
komitmennya dalam menda’wahkan Islam adalah merupakan orang-orang
yang beruntung, yang memiliki harapan akan janji Allah untuk mendapatkan
balasan yang baik. Punya nilai tersendiri tentunya, apabila seorang
muslim setelah dia mengimani, mengilmui, dan mengamalkan Islam, kemudian dia
menda’wahkan Islam sesuai dengan kesanggupannya dengan terlibat dalam aktivitas
da’wah islamiyah
SHABAR
DALAM BERISLAM
Setiap
muslim harus bersabar di dalam mengikuti kebenaran. Sabar berarti
berusaha untuk mengatasi permasalahan yang
dihadapi dengan tabah lahir dan batin, serta diikuti dengan
sikap tawakkal kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sabar bukan berarti sekedar ‘nrimo’
atau pasrah dalam menerima masalah, namun lebih dari itu
juga memiliki makna akan adanya usaha (ikhtiyar). Jadi
sabar selain memiliki pengertian kepasrahan (tawakkal)
kepada Allah, juga mengandung makna berusaha untuk
mengatasi permasalahan yang dihadapi. Karena itu,
tidaklah mengherankan ada orang yang berpendapat
bahwa sabar itu tidak ada batasnya, mengingat firman Allah:
Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga
(diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu
beruntung. (QS 3:200, Ali ‘Imran).
Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati dan Allah akan menguji
setiap manusia dengan fitnah, termasuk juga pengakuan atas keimanan
mereka.
Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan:
“Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya
Kami telah menguji orang-orang yang sebelum
mereka, maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS 29:2-3, Al Ankabuut).
Sudah
seharusnya, apabila seorang muslim dalam rangka untuk tetap istiqamah
dalam memeluk Islam menjadikan sabar sebagai bagian dari
komitmennya, dan menjadikannya sebagai penolong.
Hai
orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
(mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS 2:153, Al Baqarah)
0 komentar:
Posting Komentar