![]() |
Indahnya Pacaran setelah Menikah |
Pacaran, kata yang sangat familiar
di kalangan muda-mudi zaman sekarang termasuk di Indonesia. Entah dari mana
asal mula kata itu yang pasti di kalangan remaja sekarang ini perilaku pacaran
sudah sangat membudaya. Sebelumnya batasan pacaran yang dibicarakan di sini
adalah sebuah hubungan khusus yang dijalin antara laki-laki dan perempuan yang
bukan mahram. Perilaku yang dianggap sebagai proses pengenalan terhadap
pasangan lawan jenis sudah seperti keharusan di kala beranjak dewasa. Anggapan
itu cukup mengotori masa pubertas menuju kedewasaan yang seharusnya bisa diisi
dengan hal-hal yang lebih baik.
Dalam Islam tidak dikenal istilah
ataupun proses pacaran sebagai sebuah proses pengenalan atau apapun, sebaliknya
pacaran adalah sebuah perbuatan yang dilarang dan termasuk zina. Allah
berfirman, “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah
perbuatan keji. Dan jalan yang buruk”. Akan tetapi di Indonesia yang
penduduk Islamnya adalah terbesar di dunia pacaran sangat digandrungi dan
diminati oleh kalangan remajanya. Sungguh sebuah ironi. Hal ini menunjukkan
bahwa besarnya kuantitas remaja Islam yang ada kurang diimbangi kualitas
keislaman yang cukup. Buku yang akan kita bahas ini adalah salah satu bentuk
kepedulian penulis terhadap keadaan keislaman yang cukup buruk ditandai dengan
maraknya pacaran di antara kaum muda Indonesia.
Adapun bab yang dibahas di buku ini
berjumlah 9 bab dengan urutan yang cukup sistematis membawa pembaca ke
pemahaman yang lebih baik. Pada dua bab awal yakni ‘Saat Dirimu Hadir” dan
“Jujurlah padaku ini cinta atau nafsu?” membahas tentang awal mula bagaimana
seseorang bisa terjatuh dalam jurang pacaran. Sebagaimana kita tahu masa-masa
remaja atau pubertas adalah masa di mana seseorang terlalu banyak ingin tahu
dan sangat labil keadaan psikologisnya. Di masa seperti ini para remaja sangat
mudah terpengaruh arus pergaulan lingkungan sekitarnya. Ketika ditempat
tinggalnya, lingkungan sekolah, rumah dll dipenuhi contoh-contoh kurang baik
seperti pacaran maka akan sangat berpengaruh terhadap pemahaman terhadap
pacaran itu sendiri. Lingkungan membuat seolah pacaran adalah hal wajar
sehingga tidak apa untuk dijalani. Untuk itu di masa seperti ini seorang remaja
perlu contoh yang baik yang bisa memberikan pandangan yang benar bukan seolah
olah benar atau “dibenarkan”.
Pacaran yang sekarang marak dijalani
remaja sering dibenarkan dengan alasan Cinta yang selanjutnya dikhususkan lagi
menjadi suka sama suka. Alasan cinta sebagai awal dari pacaran perlu untuk
dikonfirmasi lagi, apakah benar-benar cinta atau hanya luapan nafsu semata.
Kata cinta terlalu suci untuk dikotori dengan proses seperti pacaran yang
teknisnya hanya menunjukkan luapan nafsu syahwat masing-masing individu. Cinta
yang seharusnya adalah cinta kepada Allah swt. Cinta datang seiring datangnya
sebab. Ketika sebab itu hilang maka sedikit demi sedikit akan hilang. Dan
ketika sebab cinta kita adalah hal yang abadi yaitu Allah maka selamanya cinta
kita akan selalu terjaga. Selain itu, cinta kepada Allah justru akan mengajak
kita kearah kebaikan.
Dalam menjalani pacaran biasanya
banyak ritual yang dijalani mulai dari pegangan tangan hingga terkadang
menjerumus pada hal-hal yang bisa dikatakan “berlebihan”. Tidak sedikit
kasus-kasus asusila dan hamil di luar nikah bermula dari status pacaran yang
ada. Hal-hal tersebut menunjukkan betapa besarnya kemungkinan seseorang
terjerumus ke dalam dosa besar melalui jalan pacaran. Seperti salah satu ayat
yang dijelaskan sebelumnya bahwa Allah bukan hanya memerintahkan kita untuk
tidak berzina bahkan mendekatinya pun kita dilarang. Dalam Islam bukan hanya
pegangan tangan ataupun yang lebih dari itu yang dilarang bahkan kita
diperintahkan untuk menundukkan pandangan kita kepada lawan jenis. Dalam An Nur
30 Allah swt berfirman “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah
mereka menahan sebagian pandangannya dan hendaklah mereka jaga kemaluannya”….
Sudah banyak bukti-bukti yang nyata
sebagai efek buruk dari pacaran yang bisa dilihat tapi masih saja banyak yang
merasa berani dan “sok” dewasa dengan menjalani pacaran. Kita pasti sering
mendengar berbagai macam pembelaan dari orang-orang yang menjalani pacaran.
Mereka mungkin berkata bahwa ini adalah sebagai motivasi, penyemangat dll
padahal sudah sangat jelas yang hanya patut dijadikan penyemangat hanya Allah
swt.
Islam sebenarnya telah mengatur
dengan sangat baik seperti apa seharusnya pergaulan antara seorang laki-laki
dan perempuan mulai dari bagaimana bergaul sehari-hari hingga proses dalam
menuju sebuah hubungan. Rasulullah saw sebagai panutan telah menunjukkan
cara-cara interaksi dengan sesama lawan jenis hingga proses menuju sebuah
pernikahan dengan menjaga kesucian makna kata “cinta”. Beberapa bagian di akhir
buku ini cukup menjelaskan beberapa kisah Rasulullah saw yang bisa diambil
pelajaran untuk diterapkan di kehidupan sehari hari.
Buku ini cukup memberi penjelasan
dan penerangan ke arah yang baik bagi para pembacanya. Tidak hanya bagi mereka
yang sudah pacaran, tapi bagi setiap orang khususnya remaja yang sangat rentan
terjerumus pada banyak hal di masa pubertasnya.
“Inilah puasa panjang syahwatku,
kekuatan ada pada menahan dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh
kejutan”. Berikut adalah salah satu kalimat yang terdapat di buku karya Salim A.
Fillah ini yang cukup mewakili bagaimana kita seharusnya menahan hingga
waktunya datang. Beberapa nikmat yang disediakan Allah sudah ditentukan
waktunya untuk dinikmati, jangan sampai kita karena nafsu yang menggebu
kehilangan beberapa kenikmatan ketika waktunya datang. Maksudnya di sini adalah
biar kan rasa penasaran kita terhadap pacaran kita nikmati setelah perkara
pernikahan yang sah, janganlah kita terburu-buru menikmatinya dengan beberapa
proses yang salah seperti pacaran.
0 komentar:
Posting Komentar